- Harga emas merosot setelah penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury menekan minat investor.
- Kekhawatiran inflasi meningkat akibat konflik AS-Israel vs Iran yang juga mendorong kenaikan harga minyak.
- Pasar menunggu data ketenagakerjaan AS dan keputusan suku bunga the Fed untuk arah selanjutnya.
Ipotnews - Harga emas berbalik melemah, Kamis, setelah sempat mencatat kenaikan tajam di awal sesi. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury menekan harga logam mulia tersebut, sementara kekhawatiran inflasi meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Emas spot merosot 1,2 persen menjadi USD5.076,59 per ons pada pukul 01.32 WIB, setelah melonjak hingga USD5.194,59 per ons di awal perdagangan, demikian laporan Reuters, di Bengaluru, Kamis (5/3) atau Jumat (6/3) dini hari WIB.
Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak pengiriman April ditutup menyusut 1,1 persen ke posisi USD5.078,70 per ons.
Menurut Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi membuat pasar berhati-hati terhadap prospek emas. "Pasar melihat kemungkinan kenaikan harga minyak yang bisa memicu inflasi, sementara kenaikan imbal hasil obligasi biasanya bukan kabar baik bagi emas," ujarnya.
Ketegangan geopolitik meningkat seiring kampanye militer antara Amerika dan Israel melawan Iran yang memasuki hari keenam. Warga di sejumlah wilayah melaporkan intensitas serangan udara yang semakin berat. Di sisi lain, Teheran berjanji akan membalas setelah serangan Amerika terhadap sebuah kapal yang berada jauh dari zona utama konflik.
Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Ketidakpastian tersebut mendorong harga minyak naik dan memperbesar risiko inflasi, sekaligus mengurangi peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Emas sendiri sering dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi jangka panjang. Namun, logam kuning biasanya berkinerja lebih baik ketika suku bunga turun.
Tekanan terhadap emas juga datang dari penguatan dolar AS. Indeks Dolar AS (Indeks DXY) naik sekitar 0,5 persen sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.
Di saat yang sama, imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun melesat ke level tertinggi dalam tiga minggu. Kenaikan yield meningkatkan biaya peluang bagi investor untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Meski demikian, Melek menilai fundamental emas masih cukup kuat. Dia menyebut defisit anggaran Amerika Serikat yang berpotensi meningkat serta ketidakpastian global masih menjadi faktor pendukung harga emas dalam jangka panjang.
Dari sisi ekonomi, data Amerika Serikat menunjukkan klaim pengangguran awal tidak berubah pada pekan lalu, sementara jumlah pemutusan hubungan kerja turun tajam sepanjang Februari.
Laporan terbaru dari Federal Reserve juga memperlihatkan aktivitas ekonomi meningkat sedikit dalam beberapa pekan terakhir, harga masih naik, dan tingkat ketenagakerjaan relatif stabil.
Pasar kini memperkirakan the Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan 18 Maret. Investor juga menunggu laporan ketenagakerjaan AS periode Februari yang dijadwalkan dirilis pada Jumat untuk mencari petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter.
Selain emas, sejumlah logam mulia lainnya juga mengalami penurunan. Harga perak spot melorot 1,8 persen menjadi USD81,91 per ons. Platinum melemah 1,1 persen ke level USD2.125,10, sementara paladium anjlok 2,4 persen jadi USD1.634,15 per ons. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发