Harga minyak mentah tembus US$ 100 per barel pada Kamis (12/3) di tengah memanasnya Selat Hormuz. Pemimpin baru Iran diduga mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup dan serangan terhadap kapal-kapal di Teluk membuat para pedagang energi khawatir.
Dalam komentar yang disampaikan seorang pembawa acara di televisi pemerintah Iran, Mojtaba Khamenei memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Peringatan juga berisi tentang kemungkinan serangan lebih lanjut terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS).
Komentar yang diduga disampaikan pemimpin baru Iran tersebut muncul beberapa jam setelah Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa pasokan minyak akan semakin menyusut jika kapal-kapal tidak melanjutkan transit melalui Selat Hormuz, yang biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima produksi minyak global harian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perang di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," kata IEA dikutip dari CNN, Jumat (13/3/2026).
Baca juga: Harga Pertalite Dijamin Tak Naik Meski Minyak Bergejolak |
Harga minyak mentah Brent naik 9% menjadi di atas US$ 100 per barel. Sementara itu, harga WTI naik dengan margin yang sama menjadi di atas US$ 95 per barel.
Menurut Capital Economics, harga minyak di kisaran US$ 90-100 per barel. Jika bertahan lama, kondisi ini dinilai berisiko mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara ekonomi utama.
Harga minyak tetap tinggi meskipun 32 negara ekonomi terbesar di dunia, termasuk AS sepakat untuk menambah 400 juta barel minyak ke pasar global. Langkah yang dipimpin IEA itu bertujuan untuk membatasi kenaikan harga minyak dan memperkuat pasokan minyak mentah yang terganggu oleh perang di Iran.
Nyatanya hampir terblokirnya Selat Hormuz telah menghambat sekitar 15 juta barel minyak mentah dan 5 juta barel produk minyak lainnya dari pasar global setiap hari. Itu artinya penambahan 400 juta barel minyak mentah yang direncanakan hanya akan terserap dalam 26 hari.
"Dari perspektif pasar, masalahnya adalah investor semakin memperhitungkan konflik yang lebih berkepanjangan yang menyebabkan kerusakan ekonomi yang luas," tutur Kepala Penelitian Makroekonomi Global di Deutsche Bank, Jim Reid.
(aid/ara)作者:Anisa Indraini -,文章来源republika_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发