Wall Street Rontok Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Kekhawatiran Perang Iran Membayangi

avatar
· 阅读量 2,592
  • Wall Street jatuh setelah the Fed menahan suku bunga dengan proyeksi pemotongan terbatas.
  • Lonjakan harga minyak dan konflik Timur Tengah tekan sentimen investor.
  • Seluruh sektor S&P 500 melemah meski beberapa saham unggulan naik.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street merosot, Rabu, setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dan hanya memproyeksikan satu kali pemotongan sepanjang tahun ini. Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya risiko ekonomi akibat lonjakan harga minyak serta konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup melorot 1,36 persen atau 91,39 poin menjadi 6.624,70, penutupan terendah dalam hampir empat bulan. Sepanjang 2026, indeks ini kehilangan sekitar 3 persen, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Rabu (18/3) atau Kamis (19/3) pagi WIB.
Sementara itu, Nasdaq Composite Index anjlok 1,46 persen atau 327,10 poin ke posisi 22.152,42, dan Dow Jones Industrial Average menyusut 1,63 persen atau 768,11 poin jadi 46.225,15.
Proyeksi terbaru pembuat kebijakan Federal Reserve menunjukkan suku bunga acuan kemungkinan hanya akan dipangkas seperempat poin persentase hingga akhir tahun, tanpa kejelasan waktu pelaksanaannya.
Pelemahan indeks saham semakin dalam setelah Chairman Fed, Jerome Powell, dalam konferensi pers menegaskan tingginya ketidakpastian ekonomi akibat perang yang melibatkan Iran.
Pelaku pasar sebelumnya memang tidak memperkirakan perubahan suku bunga dalam pertemuan kali ini. Namun, pernyataan bank sentral yang cenderung hati-hati dinilai tidak cukup untuk menopang sentimen investor.
Michael Rosen, Chief Investment Officer Angeles Investments, menilai kondisi inflasi yang masih di atas target dan ekonomi yang tetap kuat membuat tidak ada alasan bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat.
Dia menambahkan, tantangan terbesar bagi the Fed adalah menyeimbangkan mandat ganda, yakni menjaga lapangan kerja penuh dan stabilitas harga. Jika perang berlanjut dan harga minyak tetap tinggi, perlambatan ekonomi bisa terjadi, namun pelonggaran kebijakan justru berisiko memperparah inflasi.
Data dari Departemen Tenaga Kerja AS sebelumnya menunjukkan Indeks Harga Produsen (PPI) naik 3,4 persen secara tahunan, melampaui perkiraan ekonom 2,9 persen. Tekanan harga diperkirakan masih dapat meningkat seiring lonjakan biaya energi dan logistik akibat konflik Timur Tengah.
Harga minyak Brent juga terus menguat mendekati USD110 per barel setelah laporan serangan terhadap fasilitas energi Iran di kawasan South Pars dan Asaluyeh.
Seluruh 11 sektor dalam indeks S&P 500 mencatat penurunan, dengan consumer staples memimpin pelemahan sebesar 2,44 persen, diikuti sektor konsumsi diskresioner yang berkurang 2,32 persen.
Di sisi korporasi, saham Advanced Micro Devices melesat 1,6 persen setelah memperluas kemitraan strategis dengan Samsung Electronics dalam penyediaan chip memori untuk infrastruktur kecerdasan buatan.
Sebaliknya, saham Nvidia turun 0,8 persen meski telah memperoleh persetujuan dari Beijing untuk menjual chip kecerdasan buatan kelas menengah di China.
Saham Micron Technology melemah sekitar 0,5 persen dalam perdagangan lanjutan, meski perusahaan berhasil melampaui ekspektasi pendapatan kuartalan berkat lonjakan permintaan chip memori untuk kebutuhan AI.
Di sektor keuangan, saham Apollo Global Management melonjak 2,1 persen setelah pulih dari penurunan tajam pada pekan sebelumnya akibat kekhawatiran kualitas kredit swasta.
Sementara itu, Lululemon Athletica melejit 3,8 persen setelah merilis laporan kinerja kuartalan. Pendiri perusahaan, Chip Wilson, menyebut keluarnya direktur utama David Mussafer dari dewan sebagai langkah positif dalam restrukturisasi perusahaan.
Saham Macy's juga melompat 4,7 persen setelah perusahaan ritel tersebut memperkirakan dampak tarif yang lebih kecil pada paruh kedua tahun ini serta melaporkan laba yang melampaui ekspektasi.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan yang menguat di indeks S&P 500, dengan rasio 5,2 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatat 17 saham mencapai level tertinggi baru dan 15 saham mencetak level terendah baru. Sementara di Nasdaq, terdapat 42 saham yang menembus rekor tertinggi dan 218 saham menyentuh level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa Wall Street relatif tipis, dengan sekitar 19,4 miliar saham diperdagangkan, sedikit di bawah rata-rata 20 sesi terakhir sebesar 19,8 miliar saham. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Chevron Corp (0,32%)
-JPMorgan Chase & Co (0,30%)
-Goldman Sachs Group Inc (0,21%)
Saham berkinerja terburuk
-McDonald's Corporation (-3,24%)
-Procter & Gamble Company (-3,15%)
-Home Depot Inc (-3,08%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-LyondellBasell Industries NV (5,62%)
-Lululemon Athletica Inc (3,84%)
-Vistra Energy Corp (3,52%)
Saham berkinerja terburuk
-Otis Worldwide Corp (-6,67%)
-Charter Communications Inc (-6,08%)
-Amphenol Corporation (-5,41%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Artelo Biosciences Inc (51,13%)
-Zhengye Biotechnology Holding Ltd (36,10%)
-Twin Vee Powercats Co (34,64%)
Saham berkinerja terburuk
-Meiwu Technology Co Ltd (-53,54%)
-Smart Power Corp (-50,02%)
-Texxon Holding Ltd (-48,89%)

Sumber : Admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest