- Harga minyak turun lebih dari 2% karena harapan perdamaian AS-Iran.
- Pasar tetap volatil akibat ketidakpastian konflik dan gangguan pasokan global.
- Gangguan distribusi energi (termasuk Selat Hormuz) masih jadi risiko utama.
Ipotnews - Harga minyak merosot lebih dari 2% pada perdagangan Rabu, seiring meningkatnya harapan akan berakhirnya konflik di kawasan Teluk setelah Iran mulai meninjau proposal perdamaian dari Amerika.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup menyusut USD2,27 atau 2,2% menjadi USD102,22 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (25/3) atau Kamis (26/3) pagi WIB.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melorot USD2,03 atau 2,2% ke posisi USD90,32 per barel. Di awal sesi perdagangan, harga Brent bahkan sempat anjlok hingga 7%.
Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa Teheran masih mengkaji proposal yang diajukan Washington untuk mengakhiri perang, meski respons awal yang diberikan bernada negatif. Hal ini menunjukkan Iran belum sepenuhnya menolak tawaran tersebut.
Di sisi lain, tekanan politik meningkat. Pemerintah Amerika Serikat melalui Gedung Putih menyatakan akan meningkatkan tekanan terhadap Iran jika negara tersebut tidak mengakui kekalahan militernya dalam konflik yang sedang berlangsung.
Secara terbuka, pejabat Iran memang menunjukkan sikap keras terhadap kemungkinan negosiasi dengan pemerintahan Presiden Donald Trump. Namun, penundaan dalam memberikan respons resmi terhadap proposal 15 poin yang disampaikan melalui Pakistan mengindikasikan adanya perbedaan pandangan di internal pemerintahan Iran.
Analis Ritterbusch and Associates menilai harga minyak akan terus bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan berita terkait konflik Iran. Upaya Gedung Putih untuk menonjolkan kemajuan negosiasi, yang berbanding terbalik dengan sikap Iran yang belum mengakui adanya progres, dinilai akan membatasi kejatuhan harga lebih lanjut.
Volatilitas harga minyak dalam beberapa pekan terakhir juga melonjak tajam, mencapai level tertinggi sejak April 2022, mencerminkan ketidakpastian tinggi di pasar energi global.
Konflik yang berlangsung telah menyebabkan gangguan besar terhadap distribusi energi dunia. Pengiriman minyak dan gas alam cair melalui Selat Hormuz--jalur strategis yang biasanya dilalui sekitar 20% pasokan energi global--hampir sepenuhnya terhenti. Badan Energi Internasional menyebut situasi ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah.
Akibatnya, pasokan minyak global berkurang sekitar 20 juta barel per hari. Sejak konflik dimulai pada 28 Februari, total kehilangan pasokan diperkirakan mencapai 500 juta barel, setara dengan lima hari konsumsi global.
Pemerintah AS menyatakan tengah memantau secara ketat upaya untuk kembali membuka jalur distribusi di Selat Hormuz. Sementara itu, India dilaporkan mulai kembali membeli gas petroleum cair dari Iran setelah Amerika memberikan pelonggaran sementara terhadap sanksi energi.
Di Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi meminta Badan Energi Internasional untuk mengoordinasikan pelepasan tambahan cadangan minyak guna melindungi konsumen dari lonjakan harga energi.
Namun, data terbaru menunjukkan Amerika Serikat belum mulai menggunakan cadangan minyak strategisnya, meski tekanan terhadap pasokan global meningkat.
Di luar Timur Tengah, konflik lain turut memperburuk situasi energi global. Rusia menghentikan aktivitas ekspor minyak di pelabuhan Baltik utama seperti Primorsk dan Ust-Luga setelah serangan drone Ukraina memicu kebakaran besar. Serangan tersebut menyebabkan sekitar 40% kapasitas ekspor minyak Rusia terhenti, berdasarkan perhitungan Reuters.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan proposal jaminan keamanan dari Amerika terkait perdamaian mensyaratkan Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas kepada Rusia.
Uni Eropa juga tengah mempertimbangkan perubahan kebijakan perdagangan karbon guna mengurangi volatilitas harga energi di masa depan. Di Amerika Serikat, pemerintah sementara menangguhkan regulasi bahan bakar musiman untuk menekan kenaikan harga bensin domestik.
Di Venezuela, produksi minyak dilaporkan mencapai 1,1 juta barel per hari pada Maret, menambah dinamika suplai global.
Dari sisi persediaan, Badan Informasi Energi (EIA) Amerika melaporkan kenaikan stok minyak mentah sebesar 6,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Maret.
Angka itu lebih tinggi dari penambahan 500.000 barel yang diprediksi analis dalam jajak pendapat Reuters dan peningkatan 2,4 juta barel, menurut sumber pasar dilaporkan oleh kelompok perdagangan American Petroleum Institute, Selasa. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发