Mulai 1 April negara tetangga, Malaysia, mengurangi kuota BBM subsidi dari 300 liter per bulan, menjadi 200 liter per bulan. Bagaimana dengan Indonesia?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan sampai saat ini pemerintah belum membatasi kuota BBM subsidi sebagai langkah penghematan BBM imbas perang di Timur Tengah.
Menurut Bahlil pemerintah fokus pada upaya mendorong penggunaan BBM secara bijak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"itu semua lagi dirumuskan, tapi lebih pada kita bagaimana melakukan pemakaian BBM dengan rasa bijaksana, kita harus bijak dalam memakai BBM," ujar Bahlil di Kantor Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Bahlil kembali menegaskan hingga saat ini pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM subsidi. Ini sesuai dengan perintah dari Presiden Prabowo Subianto yang selalu mengingatkan agar setiap kebijakan yang diambil tetap memperhatikan kondisi dan kemampuan masyarakat, khususnya kelompok ekonomi kecil.
"Sampai dengan sekarang kita belum ada opsi untuk membatasi subsidi. Artinya belum ada kenaikan untuk subsidi masih tetap sama," katanya.
Saat ditanya langkah yang bakal diambil jika perang di Timur Tengah berkepanjangan, Bahlil enggan berkomentar panjang. Ia hanya bilang fokus pemerintah masih pada bagaimana pasokan dalam negeri dapat mencukupi kebutuhan.
"itu nanti kita lihat. Makanya dinamika ini kan kita akan ikuti, jangankan ini cepat sekali dinamikanya bisa per minggu, bisa per bulan, yang penting bagi kita adalah bagaimana memastikan bahwa stok untuk BBM semuanya bisa clear," tuturnya.
Sebagai informasi, Malaysia berencana mengurangi kuota BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak imbas konflik di Timur Tengah. Kuota BBM subsidi jenis RON 95 akan dipangkas dari 300 liter per bulan, menjadi 200 liter per bulan mulai 1 April 2026.
Meski demikian, harga BBM bersubsidi RON 95 itu tidak berubah yakni tetap dibanderol RM 1,99 per liter atau setara Rp 8.411 per liter (kurs Rp 4.227 per Ringgit Malaysia). Jika konsumsi warga melebihi kuota yang ditetapkan, baru akan dikenakan harga pasar.
Direktur Strategi Investasi dan Ekonom Negara IPPFA Sdn Bhd, Mohd Sedek Jantan mengatakan penyesuaian kuota BBM subsidi merupakan langkah yang tepat meskipun bukan solusi paling efektif dalam jangka panjang. Tindakan itu dianggap penting karena kenaikan biaya subsidi yang berpotensi mencapai RM 24 miliar tahun ini merupakan risiko fiskal yang besar.
"Menunda tindakan (untuk memangkas subsidi) hanya akan meningkatkan biaya pada akhirnya. Bertindak lebih awal memungkinkan penyesuaian bertahap dan terkontrol, sementara penundaan meningkatkan kemungkinan tindakan yang lebih mendadak dan mengganggu di kemudian hari," ujar Sedek dikutip dari Bernama, Kamis (26/3/2026).
(hrp/hns)作者:Heri Purnomo -,文章来源republika_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发