Indeks dolar AS (DXY) mencetak rekor tertinggi baru dalam dua tahun terakhir pada kisaran 101.90 di tengah perdagangan sesi Asia hari Selasa (26/April), menyusul gelombang aksi risk-off yang merebak awal pekan ini. Pelaku pasar mengkhawatirkan dampak ekonomi dari lockdown COVID-19 yang lebih luas dan ketat di China, sehingga beralih ke aset-aset safe haven seperti yen Jepang dan dolar AS.
Grafik DXY Daily via TradingView
Shanghai, kota pusat keuangan nomor satu di China, telah mengalami lockdown ketat selama sekitar satu bulan. Pemerintah China hari ini memulai tes massal atas 20 juta orang di Beijing, suatu langkah yang dikhawatirkan akan memicu lockdown serupa di ibukota negeri Panda itu.
Sikap super-tegas Beijing dalam menghadapi virus Corona mengakibatkan aksi jual pada saham-saham China, sekaligus meruntuhkan nilai tukar yuan dan dolar Australia. AUD/USD kini terpuruk pada rentang terendah sejak 16 Maret, sementara USD/CNH sempat menyentuh rekor tertinggi sejak November 2020.
Serangkaian pejabat Federal Reserve pekan lalu mengonfirmasi potensi kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin dalam rapat FOMC berikutnya pada awal bulan depan, termasuk Ketua The Fed Jerome Powell. Arah kebijakan hawkish The Fed saat ini belum tertandingi oleh bank sentral mayor mana pun, berkat data-data ekonomi AS yang tetap solid.
Bank sentral Inggris (BoE) juga berpeluang menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin bulan depan, tetapi data ekonomi Inggris memerah dan menggoyahkan keyakinan pasar atas ekspektasi tersebut. GBP/USD terus melanjutkan kemerosotan sejak pekan lalu hingga kini terpuruk dekat ujung candle terbawah sejak September 2020.
作者:A Muttaqiena,文章来源SeputarForex,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发